RSS
Facebook
Twitter

Goyangan Kakak Iparku



Cerita selanjutnya akan menceritakan tentang pengalaman seseorang dengan saudara iparnya dan kebetulan sekali pemain/pelaku menceritakan kepada kami dan kami hanya meneruskan saja berikut ceritanya Pengalaman menaklukkan kakak iparku yang pendiam dan agak religius. Entah setan mana yang merasuki diriku karena aku menjerumuskan orang baik-baik kedalam neraka nafsu. Kejadiannya bermula pada suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Cikampek. Kak Rati kakak tertua istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank pemerintah. Kak Rita adalah kepala cabang di Cikampek, Dari pada menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh. Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Kak Rati berusia 35 tahun. Suaminya sudah meningal 1 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai.

Lebih tepatnya kubilang anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat religius. Selama di Jakarta, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Kak Rati jalan-jalan, maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, biasanya ke mal karena waktunya sempit. Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari. Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Kak Rita jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya bisa jemput istriku di Mangga Dua. Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Kak karena orangnya pendiam.

Akupun menduga Kak Rita pasti nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Kak Rita menyetujui usul istriku. Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang di daerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Kak Rita yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami berencana jalan jam 10 pagi. Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Kak Rati sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Kak Rita. Mumpung ada kesempatan. Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda. Kuatur jebakan untuk memancing Kak. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Kak Rita dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Kak memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit. Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci.

Aku berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Kak Rita. Aku masuk kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas. Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang bulat aku menunggu Kak Rita melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini. Handuk kututupkan ke kepala seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Kak Rita. Dari balik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sepasang sepatu kets melintas kamarku.
Aku yakin Kak Rita pasti melihat tubuhku yang polos dengan tititku yang tegak berdiri. Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk sepasang sepatu yang tadinya hampir melewati kamarku kini seperti terpaku berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang. Beberapa detik aku berbuat begitu dan aku merencanakan sensasi berikut. Dengan tiba-tiba kuturunkan handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang. “E..ee…maaf Kak, aku kira nggak ada orang, ” kataku seraya mendekati pintu seolah ingin menutup pintu. Aku tidak berusaha menutup kemaluanku yang menantang. Malah kubiarkan Kak terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya. Dengan tenangnya seolah aku berpakaian lengkap kudekati Kak dan sekali lagi memohon maaf. “Maaf ya Kak, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumah ini, ” kataku sambil berdiri di depan pintu mau menutup pintu.
Tiba-tiba seperti tersadar Kak bergegas meninggalkanku sambil berkata “i…i…iya , tidak apa-apa….”. Dia langsung masuk ke kamar belakang yang diperuntukkan kepadanya selama tingal dirumahku. Aku kemudian memakai celana pendek tanpa CD dan mengenakan kaos oblong lantas mengetok pintu kamar Kak. “Ada apa Andy,” ujar Kak Rita setelah membuka pintu. Kulihat dia tidak berani menatapku. Mungkin malu. Membaca stuasi seperti itu, aku tidak menyiakan kesempatan. “Kak, maafkan Andy ya…aku lupa kalau ada tamu dirumah ini,” kataku merangkai obrolan biar nyambung. “Nggap apa-apa, cuma malu hati, sungguh Kak malu melihat kamu telanjang tadi,” balasnya tanpa mau menatap aku. “Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Kak Rita kan sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu,” kataku memancing reaksinya. “Sejujurnya Kak Rita tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Kak Rita malu, tanpa sadar terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Kak Rita sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Kak Rita seperti terpana,” katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan. Aku jadi nggak tega. Kudekati Kak Rita dan kuberanikan memegang pundaknya seraya menenangkannya. “Sudahlah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau.” Melihat reaksinya yang diam saja, aku mulai berani duduk disampingnya dan merangkul pundaknya. Kuusap-usap rambutnya agak lama tanpa berkata apa-apa. Ketika kurasa sudah agak tenang kusarankan untuk mandi aja. Kutuntun tangannya dan sekonyong-konyong setan mendorongku untuk memeluk saat Kak Rita sudah berdiri didepanku. Lama kupeluk erat, Kak Rita diam saja. Mukanya diselusupkan di dadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa menempel didadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Perlahan tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya. “Jangan Ndy…dosa,” katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku. Namun pelukanku tidak mau melepaskan tubuh yang sedang didekapnya. Dan usaha kedua Kak Rita sudah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Kucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada putting susu sebelah kiri. Kak menggeliat. Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Aku tau dari desiran nafasnya yang mulai memburu.
Aku heran juga dengan wanita ini, tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin ini style wanita baik-baik. Bagusnya, semua apa yang kulakukan tidak ada penolakan. Seperti dicocok hidungnya Kak menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya. Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack-nya, kubuka Bh nya, kubuka CD-nya , Kak diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekku.Kak masih diam. Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher, perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil, turun lagi kebawah ke sekumpulan rambut dan kedua pahanya hujilat-jilat terus sampai ke ujung jempol kaki. Aku tidak merasa jijik karena tubuh Kak Rita yang putih bersih sangat membangkitkan gairah.Kukangkangkan kakinya, Kak masih diam saja. Tapi kuamati matanya terpejam menikmati sentuhan tiap jengkal ditubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di bibuir vagina dan klitorisnya Kak tiba-tiba berteriak , ” Ahhhhhhhh……..” “Kenapa Kak….Sakit?,” tanyaku. Kak Rita hanya menggeleng. Dan aktifitas jilat menjilat vagina itu kulanjutkan. Kak Rita menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung.. ”Andy… ayo Andy….jangan siksa aku dengan nikmat…ayo Andy tuntaskan….Kak Rita udah nggak tahan,” katanya. Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung ku naiki kedua pahanya dan kutusukkan tititku kelobang surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak semua batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, mungkin karena sudah dua tahun nganggur dari aktifitas. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, keluar dan masuk. Kak Rita semakin menggelinjang.
Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat reaksinya pertanda mau orgasme, gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Kak Rita meronta-ronta , menarik segala apa yang bisa ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tak luput dari tarikannya. Semua itu dilakukan dengan lebih banyak diam. Dan tiba-tiba tubuhnya mengejang, “Ahhhh……lolongan panjangnya menandakan dia mencapai puncak. Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku. “Jangan keluarin di dalam ….aku lagi subur,” suaranya tersengal-sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum mereda. Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya. “Baik Kak cantik, Andy keluarin diluar ya,” balasku sambil kembali memasukkan tititku yang sempat terlepas dari vaginanya karena dorongan yang cukup keras. Kembali kupompa pinggulku. Aku rasa kali ini Kak Rita agak rileks. Tapi tetap dengan diam tanpa banyak reaksi Kak Rita menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang kadang-kadang meringis keenakan. Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari vagina Kak Rita dan kugencet batang jKakorku sambil menyemprotkan sperma. Kuhitung ada lima kali tititku meludah. Sekujur tubuh Kak Rita yang mulus ketumpahan spermaku. Bahkan wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan. Kulihat Kak Rita bangkit mengambil tisu dan membersihkan badan serta mukanya. “Andy…kamu sudah memberikan apa yang belum pernah Kak Rita rasakan,” kata wanita cantik itu sambil rebahan disampingku.
Dengan persetujuan Kak Rita, kami menelpon istriku mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Kak Rita nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih tiga kali lagi melakukan persetubuhan. Dalam dua sessi berikut sangat kelihatan perkembangan yang terjadi sama Kak Rita. Kalo permainan pertama dia banyak diam, permainan kedua mulai melawan, permainan ketiga menjadi dominan, permainan keempat menjadi buas….buas…sangat buas. Aku sempat memakai kondom biar bisa dengan leluasa menumpahkan sperma saat punyaku ada didalam vaginanya. “Aku sadar ini dosa, tapi aku juga menikmati apa yang belum pernah aku rasakan selama bersuami. Suamiku itu adalah pilihan orang tua dan selisih 10 tahun dengan Kakak. Sampai Uda meninggal, Kak Rita tidak pernah merasakan kenikmatan sexual seperti ini. Sebetulnya Kak Rita masih kepengen nikah lagi tapi tidak pernah ketemu orang yang tepat. Mungkin posisi Kak sebagai kepala bagian membuat banyak pria menjauh.” Cerita Kak Rita sebelum kami sama-sama tertidur pulas karena kepacean sehabis bertarung di ranjang , dan pada saat aku terbangun jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan akupun mulai beraktivitas seperti biasanya jemari menunggu istri pulang dari kantor.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar